Memburu Jejak Ninja Madura

SUASANA riang Lebaran seperti tak tersisa di kediaman keluarga KH Ahmad Asmuni Ishaq. Rumah yang biasa ramai dengan acara silarutahmi itu kini berubah jadi rumah duka. Di tempat itu, dini hari Kamis pekan lalu, Kiai Asmuni, 64 tahun, dianiaya komplotan bertopeng ala ninja hingga menemui ajal.

Tebasan celurit berkali-kali mendarat di tubuhnya. Kiai Asmuni roboh dan bermandi darah. Insiden ini tak hanya mengejutkan warga Desa Kaliboto Lor, Kecamatan Jatiroto, Lumajang, tempat tinggal sang kiai. Kabar duka itu juga membuat geger para nahdliyyin di Jawa Timur.

Berbagai skenario muncul. Terutama setelah Gus Dur, panggilan akrab KH Abdurrahman Wahid, menggelar konferensi pers di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), Jalan Kramat Raya, Jakarta, Sabtu lalu. Ia mengaku telah mengontak Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Susilo Bambang Yudhoyono, agar segera mengusut kasus tersebut. Jika polisi tak cepat bertindak, Gus Dur mengancam akan mengerahkan Banser, Garda Bangsa, dan Pagar Nusa.

Gus Dur mengsinyalir ada upaya meneror para kiai di Jawa Timur. Kasus baru itu juga mengingatkannya pada aksi teror berdalih antidukun santet di Banyuwangi, akhir 1998, yang menurut Tim Pencari Fakta NU Jawa Timur menelan korban jiwa 148 orang, 96 di antaranya warga NU.

Kasus itu pun bergulir jadi isu politik. Ditengarai ada operasi intelijen untuk membungkam kaum oposisi. Toh, hingga kini, tragedi itu tetap misterius. Namun, bagi Gus Dur, apa yang menimpa Kiai Asmuni tak jauh beda dengan kasus Banyuwangi 1998 itu. Begitu pula pembunuhan atas H. Rafiq Sutrisno, pengusaha tebu di Jember, awal November lalu.

Menurut Gus Dur, kasus serupa akan terulang. "Tujuannya, menggagalkan Pemilu 2004," kata mantan Presiden RI ini. Ia lalu mengaitkannya dengan pernyataan Panglima TNI Jenderal Endriantono Sutarto, beberapa waktu lalu, bahwa ada pihak yang ingin menggagalkan pemilu.

Malah, Gus Dur berani menuding adanya keterlibatan pejabat negara. "Saya punya pernyataan dalam rekaman kaset dan VCD," kata Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu. Sayang, Gus Dur tak mau membeberkan bukti penting itu kecuali, katanya, jika diminta polisi.

Namun, kalangan PKB dan NU masih bersilang pendapat atas teori Gus Dur ini. Ada yang menolak, banyak juga yang setuju. Wakil Ketua PKB Jawa Timur, Fathorrasjid, terasuk yang setuju dan mengaku kerap menjadi sasaran teror telepon. Begitu pula beberapa kiai di Jember dan Situbondo. Penelepon gelap ini mengatakan, para kiai menjadi target pembunuhan.

Selama setahun ini, Fathorrasjid kerap menerima pesan singkat (SMS). Isinya, antara lain, "Hati-hati, Anda akan dihabisi." Koleganya separtai, KH Zainurrahman, mengaku bernasib serupa. Wakil Ketua DPRD Situbondo ini diancam akan diculik. Ancaman lewat telepon itu sempat dialami pula saat isu dukun santet merebak di Banyuwangi, lima tahun silam. "Saya istigfar saja, tak mau ambil pusing," kata Zainurrahman, yang juga pengasuh Pondok Pesantren Nur Ikhsan.

Namun, hingga akhir pekan ini, polisi tak menemukan indikasi pembunuhan kedua ulama NU itu terkait urusan politik. Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur, Inspektur Jenderal Polisi Heru Susanto, menyebut kematian H. Asmuni Ishaq itu karena pencurian dengan kekerasan atau pembunuhan yang direncanakan. "Tapi, kapastiannya nanti kalau pelaku sudah tertangkap," katanya.

Menurut Heru, terlalu jauh jika kasus ini dikaitkan dengan sabotase Pemilu 2004. Dalam kasus Kiai Asmuni, katanya, pelaku tak menganiaya putra korban yang tak melawan. Mereka memang mengincar korban. Sedangkan pada kasus H. Rafiq Sutrisno, dua tersangkanya sudah tertangkap, yaitu Saiful dan Antok. Keduanya mantan sopir korban. "Ini murni perampokan dan balas dendam," katanya.

Laboratorium Forensik Polda Jawa Timur sejauh ini baru menemukan bukti tetesan darah dan sejumlah sidik jari. Kepala Kepolisian Resor Lumajang, Ajun Komisaris Besar Polisi Syafril Nursal, mengatakan bahwa 20 saksi sudah diperiksa. "Semuanya belum mengarah ke tersangka," katanya.

Namun, tersiar kabar bahwa sebelum insiden, Asmuni kedatangan tamu, dan ia bertengkar hebat dengan tamunya. Hal itu dibenarkan Syafril, yang juga ketua tim investigasi kasus ini. "Tapi, harus diselidiki dulu, tak boleh asal menuduh tanpa bukti kuat," katanya.

Tak hanya polisi, Pengurus Cabang NU Lumajang juga membentuk tim investigasi. Hasil sementara temuannya menyatakan, motif pembunuhannya adalah dendam. Sama dengan analisis polisi. Tim itu juga menyatakan, pembunuhan Kiai Asmuni tak ada kaitan dengan pembunuhan H. Rafiq Sutrisno.

Beberapa tokoh seperti Ali Maschan Moesa, Ketua NU Jawa Timur, dan Wakil Ketua PKB, Mahfud MD, tak memprotes temuan polisi itu. "Untuk sementara, kami terima hasil penyelidikan polisi," kata Mahfud kepada Rachmat Hidayat dari GATRA.

Kronologi pembunuhan hasil temuan NU Lumajang pun tak beda dengan versi polisi. Kamis dini hari, menjelang pukul 02.00 WIB, usai menonton sepak bola, Ivan Syauki, 22 tahun, putra sulung korban, masuk kamar. Tak berapa lama, ia mendengar jendela sisi kiri rumah dibuka paksa. Terdengar lagi jendela depan dicongkel. Ketika Ivan keluar kamar, enam orang mengenakan pakaian gelap dan tutup muka sudah berada di dalam rumah.

Lalu kawanan itu mengalungkan celurit pada Ivan dan menanyakan ayahnya, "Edimma kamara abahna (di mana kamar bapakmu)." Belum sempat dijawab, pelaku lain langsung menerobos masuk kamar adiknya, Amil Muzammilah, 17 tahun, dan Indah Ulinnuha, 14 tahun. Mereka pun mengancam: "Negeneng, area mercon deggik epaleduk" (Diam, ini petasan, nanti aku ledakkan)."

Menurut Indah, komplotan itu menggunakan bahasa Madura dialek setempat. Ia tak sempat mengenali para pelaku. Yang terlihat ada yang bersandal jepit dan bercelana pendek. Mendengar keributan di kamar anaknya, Kiai Asmuni keluar. Saat itu pula, para penjahat itu menghujaninya dengan bacokan hingga korban roboh bersimbah darah.

Kiai Asmuni meninggal sesaat setelah tiba di rumah sakit. Istrinya, Ny. Mutmainnah, yang menyusul suaminya keluar kamar, juga kena bacokan. Beruntung, ia masih bisa terselamatkan. Kini, ia dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soebandi, Jember, Jawa Timur.

Kejadian berlangsung tak lebih dari 20 menit. Komplotan kabur ke arah jalan raya Jatiroto lewat rel kereta api, berjalan kaki. Mereka menghilang di kegelapan malam. Dalam insiden itu, tak satu pun barang milik korban dibawa kabur. Motif perampokan jelas tak beralasan.

Jadi, apa motifnya? KH Syamsul Arifin, kakak kandung korban, mengaku bingung karena sepengetahuan dia, adiknya tak punya musuh. Ia hanya Ketua Dewan Syuro Pimpinan Anak Cabang PKB Kecamatan Jatiroto. Ia bukan pula juru kampanye partai atau calon anggota legislatif. "Meski aktif di politik, bicaranya tetap santun," katanya.

Di mata warga sekitar, korban yang lulusan Pesantren Lirboyo, Kediri, itu lebih dikenal sebagai mubalig. Pada usia belia, selepas nyantri, Asmuni muda harus mencari uang sendiri berjualan di pasar. Ayahnya hanya petani biasa.

Tak ada dalam keluarganya yang berbisnis menonjol. Semuanya sebagai pedagang kecil dan petani. Hanya adik ipar Ny. Mutmainnah, istri korban, H. Soleh Zahrowi, dikenal sebagai pedagang emas yang berhasil di Jatiroto. Rumahnya 10 meter dari kediaman Asmuni.

Selain menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro Pimpinan Anak Cabang PKB Jatiroto, Asmuni sempat jadi Wakil Rais Syuriah NU Jatiroto (1993-1998). Sehari-hari, ia jadi imam salat dan pengajian di Masjid An-Nur peninggalan ayahnya. Kini, ia memimpin pengajian mingguan salawat Nariyah di desanya, Kaliboto Lor.

Nyaris tak ada aktivitas berarti yang lain. Cuma, secara temporer, ia menjadi penyelenggara rombongan ziarah Wali Songo. Sejak setahun terakhir, ia bertambah sibuk memimpin pengajian bulanan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia di Jatiroto.

Asmuni bukanlah pebisnis besar. Ia menghidupi keluarganya dengan berdagang sarung dan pakaian muslim di Pasar Randu Agung, 10 kilometer dari rumahnya. Menurut Syamsul Arifin, sebagai pebisnis gurem, adiknya mustahil terlibat persaingan usaha yang keras. Bisnis ini sudah dilakukannya lebih dari 40 tahun.

Tapi, Pengurus Cabang NU Lumajang punya kisah lain. Beberapa hari sebelum kejadian, korban pernah bercerita kepada beberapa orang bahwa kios tempat dia berdagang sering dilaburi dengan kotoran manusia. Siapakah yang memendam dendam? Wallahualam. Polisi pun hingga kini masih terus mengusut untuk meyakinkan teori mana yang benar. Gus Dur-kah atau polisi.

Kholis Bahtiar Bakri, Mujib Rahman, dan Nurul Fitriyah (Surabaya). [Nasional, GATRA, Edisi 4 Beredar Jumat 5 Desember 2003]

Disalin dari Arsip gatra

Senin, 12 Mei 2014 Silahkan Berikan Komentar

« Posting Lama