Stephen Edwin King dan Penolakan Naskah

”PADA penghujung 1950-an, seorang agen sastra dan kolektor memorabilia fiksi ilmiah yang kompulsif bernama Forrest J. Ackerman telah mengubah hidup ratusan anak-anak—aku salah satunya—ketika dia mulai menyunting majalah bernama Famous Monsters of Filmland,” tulis Stephen Edwin King, novelis horor terbesar Amerika Serikat saat ini, dalam memoarnya, On Writing: A Memoir of the Craft (2000).

Lelaki kelahiran Portland, Maine, 12 September 1947 itu baru berusia belasan tahun dan tampaknya, seperti bocah-bocah sebayanya, turut terjangkit virus fiksi ilmiah.

Sekitar tahun 1960, Forry, begitu Forrest disapa, meluncurkan Spacemen, majalah film fiksi ilmiah yang berusia pendek. King mengirim sebuah roman cerita pendek yang dia lupa judulnya. Naskah itu ditulisnya dengan mesin tik Royal hadiah Natal ibunya saat ia berusia 11 tahun. ”Itulah, sejauh yang dapat kuingat, cerita pertama yang pernah kukirim ke penerbit,” kata King.

Naskah itu ditolak, tapi Forry menyimpannya. Dia selalu menyimpan apa saja dan kini dipajang rapi di rumahnya, Ackermansion. King sudah mengabaikan naskah itu, tapi dia akan bertemu lagi di suatu kesempatan. Nanti.

King boleh digolongkan sebagai pengarang yang gigih. Penolakan demi penolakan rajin menyambanginya sepanjang karir kepengarangannya.

Dia banyak belajar cara menulis cerita yang baik dan bagaimana memasarkannya dari Writer’s Digest. Dia mulai memasuki dunia horor. Dia berkali-kali mengirim naskahnya ke Alfred Hitchcock’s Mystery Magazine dalam rentang waktu delapan tahun tanpa jawaban.

Akhirnya dia mengirim cerita pendek ”Happy Stamps”. Naskah itu kembali tiga pekan kemudian dengan sebuah lampiran nota penolakan. Nota itu berisi gambar Hitchcock dengan tinta merah dan sepotong ucapan selamat atas ceritanya. Pada bagian bawah nota itu ada catatan tanpa tanda tangan: ”Jangan jegrek naskahmu. Lembar-lembar lepas dan klip kertas adalah cara yang benar untuk mengirim naskah.” Sejak itu, ”Aku tak pernah menjegrek naskah,” kata King.

King lantas memasang sebuah paku di dinding di atas fonograf Webcor-nya. Lalu ia menulis ”Happy Stamps” pada nota penolakan itu dan mencolokkan nota itu pada paku tersebut.

Lalu dia putar piringan rekaman Fats Domino di fonograf itu. Fats adalah pianis rock and roll terawal dan terlaris pada 1950-an, menyaingi Elvis Presley. ”Lalu aku berbaring di ranjang dan mendengar Fats menyanyikan I’m Ready,” tulis King. Dia merasa sangat baik saat itu. ”Ketika kau masih terlalu muda untuk bercukur, optimisme adalah tanggapan yang sah dan sempurna terhadap kegagalan,” katanya.

Ketika berusia 15 tahun, paku di dinding kamar King tak lagi cukup menampung nota-nota penolakan. Ia lalu menggantinya dengan paku beton besar dan terus menulis.

Kala berusia 16 tahunan, King mulai menerima slip penolakan dengan catatan tulisan tangan yang lebih membesarkan hatinya. Catatan pertama yang diterimanya dari Algis Budrys, yang kemudian menjadi penyunting majalah Fantasy and Science Fiction, yang membaca naskahnya, ”The Night of the Tiger”. Budrys menulis: ”Naskah ini bagus. Bukan untuk kami, tapi bagus. Kamu punya bakat. Kirim lagi.”

Sekitar sepuluh tahun kemudian, ketika King sudah berhasil menjual sejumlah novel, ia menemukan naskah itu kembali di kotak manuskrip lama dan berpikir bahwa naskah itu masih layak. Ia menulis ulang cerita itu dan mengirimnya kembali ke majalah tersebut. Kali ini majalah itu menerimanya. ”Satu hal yang kucatat adalah bahwa ketika kamu sedikit berhasil, majalah-majalah sedikit kurang condong menggunakan ungkapan itu, ‘Bukan untuk kami’,” kenang King.

Ibunya, Nellie Ruth Pillsbury King, janda yang bekerja serabutan untuk membesarkan King dan saudaranya, tahu bahwa putranya ingin menjadi pengarang. Tapi, dia mendorong King menjadi guru, ”Sehingga kau punya sesuatu untuk bertumpu,” kata ibunya.

King akhirnya masuk sekolah di Durham dan melanjutkan ke Lisbon Falls High School. Di sini dia menulis cerita pendek dan bermain gitar di sebuah grup band amatir. Dia menyunting koran sekolah, The Drum, dan menulis untuk koran lokal Lisbon Weekly Enterprise. Cerita pendeknya, ”In a Half-World of Terror” dimuat di sebuah majalah penggemar horor.

Pada 1970 ia lulus dari University of Maine dan menikahi Tabitha Spruce, yang juga pengarang. King akhirnya jadi pengajar bahasa Inggris di Hampden Academy dengan gaji US$ 6.400 setahun atau US$ 533.3 per bulan (sekitar Rp 201.600 dengan kurs Rp 378 per dolar AS). Gaji yang baginya lebih buruk dari saat dia bekerja di laundry.

Namun, King belumlah jadi ”king” di dunia fiksi horor. Tapi, saat itu akan tiba dan dimulai dengan—sekali lagi—sebuah penolakan. Masa itu, dengan gaji pas-pasan, King bersama Tabitha dan dua anaknya tinggal di sebuah trailer di Hermon, kota kecil dekat Bangor, Maine. Tabitha bekerja di Dunkin’ Donut dan mencoba menulis cerita-cerita pribadi, tapi juga menerima slip penolakan bergaya ”tak cocok untuk kami”.

King mengaku tak cukup berhasil dengan tulisannya. Cerita horor, fiksi ilmiah dan kriminal di majalah pria telah digantikan dengan meningkatnya cerita-cerita grafis tentang seks. Itu satu soal, soal lainnya, ”Untuk pertama kalinya dalam hidupku, menulis itu sukar. Persoalannya adalah mengajar,” kata King. Ia mencintai murid-muridnya, tapi beban mengajar telah menghabiskan waktunya.

Tapi, di sela-sela kepenatannya mengajar, disempatkannya menulis sejumlah cerita. Salah satunya cerita pendek ”Carrie”, kisah tentang seorang gadis yang punya kemampuan telekinetik. Menurut King, ide cerita itu berawal dari sebuah artikel di majalah Life tentang fenomena telekinetik. Ia tak puas dengan manuskrip awal ini dan mencampakkannya ke keranjang sampah karena dia menilai bagian pembukaan berisi adegan di kamar mandi perempuan itu tidak realistis dan dia sendiri tak suka dengan tokoh Carrie ciptaannya itu.

Esok malamnya, ketika pulang dari mengajar, Tabitha menyorongkan manuskrip yang ditemukannya saat mengosongkan keranjang sampah itu kepada King. Dia meminta King meneruskannya, tapi King menolak: ”Aku tak tahu apa-apa tentang gadis sekolahan.”

Tabitha berniat membantunya. ”Kau punya sesuatu di sini,” katanya sambil tersenyum. Tabitha berbagi pengetahuannya tentang kehidupan remaja putri SMA dan membantu King mengingat pengalaman masa remajanya dulu.

Cerita itu jadi sebuah novel Carrie. Naskah itu pertama-tama dikirim ke sebuah penerbit —tak dijelaskan nama penerbitnya —dan ditolak dengan alasan, ”Kami tidak tertarik dengan fiksi ilmiah yang mengangkat utopia negatif. Buku begini tak bisa dijual,” demikian catatan Rotten Reviews and Rejections (1998) yang disunting Bill Henderson dan Andre Bernard.

Naskah itu lalu dikirim ke penerbit Doubleday di mana King punya seorang teman bernama William Thompson di sana. Tapi, ia sendiri tak begitu menghiraukannya. King kembali ke kehidupan kesehariannya: mengajar, membesarkan anaknya, menulis, dan mabuk di Jumat sore.

Suatu hari, di saat istirahat sekolah, sebuah panggilan lewat interkom ditujukan kepadanya: ada telepon dari istrinya. Jantungnya berdetak keras. Tabitha tak mungkin mendandani anak-anaknya untuk bertandang ke tetangga dan meminjam telepon bila tak ada sesuatu yang terjadi.

Tabitha, dengan napas terburu yang terdengar gembira, membacakan sebuah telegram. Bill Thompson—yang nantinya menemukan seorang pengarang Mississippi tak berbakat bernama John Grisham—mengirim telegram itu setelah mencoba menelepon dan menyadari bahwa King tak punya lagi telepon di rumah. ”Selamat,” tulis Bill, ”Carrie secara resmi milik Doubleday. Apakah US$ 2.500 di muka oke? Masa depan ada di depan. Salam, Bill.”

Bintang King mulai cerlang, meskipun Carrie edisi hardcover hanya meraih sukses rata-rata. Ia terjual 13 ribu eksemplar pada 1974.

Di suatu hari Minggu, Hari Ibu, tak lama setelah telegram itu tiba, Bill menelepon King yang tengah mengerjakan buku lain soal vampir.

”Apakah kau sedang duduk?” tanya Bill.

”Tidak,” kata King. Telepon itu tergantung di dinding dapur dan dia berdiri di pintu antara dapur dan ruang keluarga. ”Apa perlu?”

”Harus,” kata Bill, ”Hak penerbitan Carrie edisi buku saku (paperback) jatuh ke Signet Books senilai 400 ribu dolar.”

King kehilangan suara. Lalu bertanya, ”Apa kau bilang, nilainya 40 ribu dolar?”

”Empat ratus ribu dolar,” kata Bill menegaskan.

King langsung menggelosor ke lantai. Ia tiba-tiba merasa perlu membelikan Tabitha sebuah hadiah Hari Ibu. Tapi, satu-satunya toko yang buka di jalan utama Bangor adalah LaVerdiere’s Drug. Dia mencoba mencari sesuatu yang hebat di sana, tapi tak ada yang hebat. Satu-satunya yang dia bisa usahakan adalah pengering rambut.

Carrie adalah jalan pembuka King menuju kesuksesan. Setelah versi filmnya diluncurkan pada 1976 dan penerbitan novel Salem’s Lot, nama King meroket sebagai pengarang cerita horor. Sejumlah novelnya meraih sukses dan sebagian besar novelnya diangkat ke film. Stanley Kubrick, misalnya, memfilmkan The Shining, Paul Michael Glaser mengangkat The Running Man, Frank Darabont memilih The Green Mile, Tom Holland mengangkat Thinner, dan Lawrence Kasdan menyutradarai Dreamcatcher.

Sekitar 1980-an, ketika sedang menggelar acara penandatanganan buku di sebuah toko buku di Los Angeles, ada seorang pria yang turut berdiri dalam antrean orang-orang yang meminta tanda tangan. Dialah Forry, orang yang menolak cerita pendek pertamanya. Forry membawa naskah cerita pendeknya dulu yang diketik spasi tunggal dengan mesin tik Royal hadiah ibunya. Dia meminta King menandatangani manuskrip itu dan King melakukannya.

*****
Majalah Ruang Baca, Edisi 15 Mei 2005. Ditulis oleh Kurniawan, dengan judul asli 'Jangan Jegrek Naskahmu'



Minggu, 21 Desember 2014 2 Comments

« Posting Lama