Kuncoro Anjani

“Latar cafe itu tempatnya enak, kamu bisa pesen apa aja, kopi, camilan, makanan berat, pokoknya banyak deh. Disana juga ada banyak buku bacaan yang bisa kamu baca gratis, wifinya juga kenceng. Ayolah Kun, sekali-kali temani aku nongkrong di cafe,” rajuk Anjani mencoba membujuk Kuncoro, kekasih barunya, agar mau menemaninya nongkrong di kafe langganannya.

“Tapi... aku ini belum pernah masuk ke kafe. Aku takut kagok, takut wagu, takut kamu malu dengan tingkahku,” jawab Kuncoro dengan wajah yang begitu murung.

Anjani merengut, agak kecewa, tapi di salah satu sudut hatinya, toh ia merasa bahagia juga, karena ternyata, Kuncoro sangat peduli dengannya, bahkan sampai memikirkan perasaan dan rasa malunya. Bentuk kepedulian yang belum pernah ia dapatkan dari pacar-pacarnya sebelumnya.

* * *

Kuncoro dan Anjani baru satu bulan berpacaran. Keduanya bertemu di tempat praktek Pak Palupi yang seorang bong supit terkenal di Magelang. Waktu itu, Anjani beserta keluarganya sedang menyunatkan Arya, adik Anjani. Ndilalah, Kuncoro memang bekerja sebagai asisten Bong Supit pak Palupi.

Perjumpaan keduanya berlangsung di ruang tunggu, saat itu, Anjani sedang sibuk meyakinkan adiknya yang terus nangis kekejer tidak mau masuk ke ruang sunat karena takut dia punya kulit otong akan segera dipotong. “Nggak usah takut, nggak sakit kok, cuma kaya digigit semut,”

“Iya, dek... masa sudah gedhe kok takut disunat, cemen ahh” kata Kuncoro yang mendadak datang ikut menenangkan adik si Anjani.

Ucapan Kuncoro yang sebenarnya lebih terdengar sebagai ejekan ketimbang rajukan itu rupanya justru ampuh meluluhkan tangisan Arya. Arya pun kemudian bersedia masuk ke ruang sunat, walau sebenarnya, gurat-gurat ketakutan masih tampak dengan begitu jelas di matanya.

Anjani pun kemudian mengucapkan terima kasih kepada Kuncoro karena sudah ikut membantu menenangkan adiknya.

“Cuma kaya digigit semut, hih, sok tahu kamu mbak, kaya kamu sudah pernah ngerasain sunat saja,” kata Kuncoro pada Anjani sesaat setelah Arya masuk ke ruang sunat.

Anjani terkekeh kecil, “Namanya juga membujuk mas,” kata Anjani agak canggung, “lagian, sunat itu rasanya memang kaya digigit semut kan?” lanjutnya

“Iya, tapi semutnya segedhe kucing.” Jawab Kuncoro geli. Anjani yang dicandai pun tertawa tak kalah gelinya.

Sejak pertemuan itu, benih benih asmara kemudian mulai tumbuh. Kuncoro tertarik dengan sosok Anjani yang nampak dewasa dan keibuan. Anjani pun agaknya juga tertarik dengan Kuncoro yang kalem dan humoris. Ndilalah juga, Anjani juga baru saja putus dari pacarnya. Sungguh atmosfer yang sangat mendukung untuk terbentuknya embrio asmara yang baru.

Keduanya lantas bertukar pin dan mulai intens berkomunikasi. Dan setelah tiga bulan lamanya pendekatan, Kuncoro dan Anjani pun akhirnya resmi berpacaran.

* * *

“Baiklah kalau kamu memaksa, aku bersedia menemanimu nongkrong di kafe langgananmu itu,”

“Nah, gitu dooong, sekali kali kita pacarannya di kafe, jangan di penyetan terus.” Anjani kegirangan.

“Ya sudah, besok sabtu aku jemput ya,”

“Iyaaaaaa”

“Aku boleh bawa pacar nggak?” Tanya Kuncoro mencoba menggoda Anjani.

“iiiihhhhh,” Anjani meringis gemes. “Jangankan bawa pacar, mau bawa pak modin atau bawa pak muadzin juga boleh, aku kan orangnya demokratis, kemarin aja aku coblosnya PDI,” lanjutnya.

“Hah, PDI? Kalau begitu kita putus saja lah, dulu aku suka sama kamu itu karena aku ngira kamu orang PKS.”

Anjani semakin gemes. Tangan Kuncoro pun langsung merah-merah penuh luka cubit.

* * *

Kuncoro dan Anjani turun dari motor. Kuncoro langsung merapikan posisi motornya.

“Ini lho kun, Latar cafe, tempat favoritku, biasanya seminggu dua kali, aku ngumpul-ngumpul disini sama temen-temenku,”

“Oooo, jadi ini tho. Mewah ya, pasti makanan disini harganya mahal mahal ya?” ujar Kuncoro sambil mengunci stang motornya.

“Ah, enggak kok, harganya standar mahasiswa, makan berdua habisnya nggak sampai seratus ribuan kok,”

Kuncoro dan Anjani lantas masuk ke Latar cafe, keduanya langsung mencari meja kosong. Malam masih terlalu awal, sehingga masih ada cukup banyak meja yang belum terisi.

“Disana aja Kun, yang deket jendela, biar romantis,” kata Anjani seraya menunjuk meja kosong di pojok kafe, dekat jendela.

Kuncoro manut saja.

Anjani dan Kuncoro segera menuju ke meja yang dimaksud, keduanya langsung duduk tanpa menunggu aba-aba. Mereka duduk berhadapan. Anjani nampak begitu santai, sedangkan Kuncoro nampak sangat canggung dan tidak nyaman.

“Eh, ni, ini aku busananya sudah pas kan? Nggak malu-maluin kan?”

“Enggak Kun, kamu tenang aja, nggak usah gugup gitu, kaya mau ngapain aja,” jawab Anjani meyakinkan Kuncoro.

“Maaf ya kalau nanti aku malu-maluin, ini pertama kalinya aku ngedate di kafe, kafenya mewah lagi.”

“Iyaaaaa, kamu nggak malu-maluin kok, malah bikin bangga, karena sudah mau nemenin aku nongkrong di kafe ini,”

Kuncoro nampak lega. Mongkok hatinya karena punya kekasih yang begitu pengertian.

“Eh, disini bisa pesan makanan apa saja kan?” Tanya Kuncoro pada sang kekasih.

“Hoo, bisa, ini kafe keren, pilihan menunya banyak banget,”

Sejurus kemudian, pelayan pun datang membawa buku menu, dan langsung memberikannya kepada Kuncoro dan Anjani dengan gaya yang aduhai metodis.

Anjani dan Kuncoro segera membuka buku menu berwarna merah marun itu, lalu membolak-baliknya, menjelajahi halaman demi halaman, berharap bakal ada satu dua menu yang nyantol dan menarik hati.

“Aku ini aja deh mbak, cappucino, sama banana split,” kata Anjani kepada si pelayan yang berdiri setia menanti daftar pesanan.

Si Pelayan segera mencatat pesanan Anjani, Sembari itu, Kuncoro nampak masih sangat bingung, ia terus membolak-balik daftar menu, namun belum juga menentukan pilihannya. Ia nampak begitu putus asa, karena tak ada satupun menu yang ia mudeng, hampir seluruh menu makanan dan minuman ditulis menggunakan bahasa asing.

“Cepet kun, mau pesen apa?” Tanya Anjani

“Sek, lagi milih-milih!”

Pelayan masih berdiri, ia tetap sabar menunggu pesanan, walaupun Kuncoro terlihat masih tetap gamang. Justru Anjani yang terlihat begitu gemes karena Kuncoro tak kunjung menentukan pilihan menunya.

“Aku limun sama jenang mutiara aja mbak” kata Kuncoro mendadak kepada si Pelayan.

Anjani terlihat kaget dengan menu yang Kuncoro pesan. Sedangkan mbak pelayan nampak meringis geli. Pengunjung lain yang duduk tak jauh dari meja Anjani dan Kuncoro pun terlihat menahan tawa mendengar menu yang dipesan Kuncoro.

Anjani lantas memberi tanda agar si pelayan minggir sebentar.

Si Palayan agaknya peka, ia segera kembali ke dapur sambil membawa kembali menu yang tadi ia berikan.

Setelah si pelayan tak ada, Anjani langsung marah marah kepada Kuncoro, kekasihnya.

“Kun, kamu jangan malu-maluin aku dong, ini tu kafe, masak kamu pesen limun sama apa itu.. jenang mutiara? Yang bener saja lah, itu makanan kampungan, makanan ndeso, mana ada makanan kaya gitu di kafe mewah seperti ini!”

“Ma.. ma.. maaf ni, aku bingung mau pesen apa, soalnya menunya pakai bahasa inggris semua, aku nggak mudeng, akhirnya aku pesen saja limun sama jenang mutiara, kan kamu bilang, disini kita bisa pesen saja... maaf ya ni” rajuk Kuncoro mencoba meminta maaf kepada kekasihnya.

Anjani sudah kadung malu. Segala pengertian yang tadi ia janjikan pada Kuncoro hilang sudah. Tensi pun meninggi.

“Iya, tapi nggak begini juga kun, kamu benar-benar bikin aku malu, kamu kampungan banget,”

“Ni, kok kamu jadi begini, aku kan cuma salah mesen menu, apa ini salah? apa ini fatal buat kamu?”

“Yaiyalah, Fatal, fatal banget, malu-maluin, dasar tukang sunat, nyesel aku pacaran sama kamu.”

Kuncoro yang dimaki sedemikian rupa pun kemudian kalap. Ia kecewa karena ternyata Anjani tak bisa memaklumi kesalahan sikapnya.

Kuncoro pun berdiri, kemudian dengan pelan, ia dekatkan mulutnya ke telinga Anjani.

“Asssuuuuu” teriaknya keras tepat di depan daun telinga sang kekasih. Anjani pun kaget dan segera menutupi telinganya. Para Pengunjung yang lain tak kalah kagetnya.

Setelah memaki Anjani, Kuncoro segera merogoh sakunya, dan mengambil uang sepuluhribuan dan langsung meletakkannya di meja, “Buat ongkos kamu pulang, bajingan!”

Kuncoro langsung keluar dari kafe, tepat di ujung pintu, ia berteriak keras “Anjani, kita pegat!”

Anjani duduk terdiam di kursinya. Ia menangis tersesak. Ia tak menyangka akan peristiwa yang baru saja terjadi. Ada sedikit rasa sesal di dalam hatinya.

* * *

Sementara itu, dari pintu dapur cafe, nampak pelayan dengan nampan di tangannya berjalan menuju meja Anjani. Di atas nampan tersebut, sudah tertata rapi secangkir cappucino, banana split, limun, dan... tentu saja, jenang mutiara.



Minggu, 17 Januari 2016 1 Comment

« Posting Lama